I Have a Dream

Apa yang ingin kau lakukan ketika kau menjadi dewasa?, adakah mimpimu yang belum tercapai?. Bagaimana masa depanmu kelak jika kau tak memiliki mimpi, bagiku itu adalah salah satu tujuan mengapa kita hidup. Aku sudah terlalu kebal mendengar teguran dan nasihat, aku tak ingin menjadi seperti yang kalian inginkan, aku hanya ingin mengejar impianku. Meski mereka bilang ini hanya bagian dari fantasiku yang terlalu berlarut-larut, aku tetap menggenggam erat impian itu bersama harapan. Walau kenyataannya kini belum teraih juga.

Sang malam menjemput senja yang bermain di langit sore. Aku meletakkan gitarku ke dalam kotaknya. Orang-orang yang tadi mengerumuniku lambat laun pergi, menyisakan aroma-aroma berbeda dari tubuh mereka. Jalanan mulai gelap dan udara mulai dingin, kursi tunggu disepanjang peron stasiun ikut menjadi dingin karena rangkanya terbuat dari besi, hal ini cukup membuatku menggigil sambil menunggu kereta yang akan mengantarku pulang. Aku buru-buru masuk begitu kereta datang dan memilih tempat di pinggir jendela kereta. Aku mengintip ke jendela dan melihat refleksiku yang gelap. Mungkin aku masih sama seperti yang dulu, sang waktu yang akan menuntunku untuk sebuah perubahan. Aku teringat sesuatu, ku rogoh saku celana jinsku dan menemukan lipatan kertas segi empat kemudian membukanya. Selebaran itu terlihat lusuh, namun tulisan di dalamnya masih dapat terbaca. Ini adalah selebaran sebuah audisi yang menjadi penentuan mimpiku. Apakah cita-cita ini salah?, apa ini hanya khayalan konyolku?, apa ini hal yang mustahil bagi gadis biasa sepertiku?. Aku berharap aku punya uang untuk sebuah perubahan, yang mungkin dapat menjadi sebuah jalan pintas agar aku bisa mendapatkan kesempatan itu lebih awal. Seperti mereka yang tanpa bakat pun mampu mendapatkan mimpi itu dengan mudah. Khayalan seorang gadis remaja yang menggelikan bukan?. Aku melipat tanganku kemudian mencoba memejamkan mata, merasai lembutnya alunan musik dari earphoneku. Aku tak ini menjadi seekor tikus yang melarikan diri dari kapal yang terbakar dan tenggelam jauh ke dasar laut. Menjadi seorang pengecut yang menenggelamkan mimpinya.

Seorang penjaja makanan kecil menawariku barang dagangannya. Aku menatapnya lalu menggeleng pelan. Dia mengangguk tanda mengerti lalu berlalu pergi, namun aku mencegahnya. Aku rasa si penjaja ini masih seumuranku, lalu aku menanyainya, “Berapa umurmu?”
Dia sedikit bingung, biasanya seorang pembeli akan menanyai berapa harga barang dagangannya namun aku malah menanyai dia tentang umurnya. Dengan tersenyum dia menjawab, “Umurku 17 tahun.”
Sudah ku duga, umurnya sama denganku. Bagaimana dia bisa menjalani hidupnya hanya dengan bekerja sebagai penjaja makanan kecil? Apa dia tak memiliki mimpi? Mimpi yang dapat merenovasi hidupnya menjadi lebih baik. Aku menjadi tak puas dengan hanya menanyai umurnya, aku ingin tahu apa dia bahagia dengan kehidupannya. Namun dia sudah berjalan pergi ke penumpang lain untuk menawarkan barang dagangannya, senyumnya tak pernah lepas seakan dia sangat menikmati apa yang sekarang dikerjakannya. Pernahkah dia berpikir dunia ini tak adil.

Kereta pun berhenti, ku gendong kotak coklat berisi gitar yang lumayan berat itu. Langkahku terhenti ketika melihat seorang anak kecil yang menangis di tengah keramaian. Orang-orang yang lalu lalang di sepanjang peron seperti tak mempedulikan tangisan anak kecil itu. Aku mendekatinya, ku lihat matanya sembab karena terlalu lama menangis.
“Ma.. ma…” Ucapnya dengan tersengal-sengal
“Kamu kehilangan mamamu?” tanyaku
Dia mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Kemudian aku mengantarnya ke bagian informasi stasiun.
“Mama!” anak kecil itu tiba-tiba berteriak senang begitu melihat seorang wanita yang berpakaian blus warna coklat sedang berdiri di dekat bagian informasi stasiun sambil sibuk menelepon seseorang. Wanita itu seketika mematikan telepon genggamnya dan berlari menuju tempatku berdiri sekarang lalu memeluk anak kecil itu dan menciuminya. Nampaknya dia amat khawatir ketika kehilangan anaknya. Bibir wanita itu tak hentinya mengucapkan terima kasih padaku. Anak kecil itu melambaikan tangannya padaku, saat itu aku berkata padanya mencoba memberitahunya untuk menjadi bijaksana, untuk menggunakan waktunya sebagaimana mestinya. Namun aku tak tahu bagaimana mengatakannya, karena dia belum mengerti dengan baik. Seorang gadis yang tiba-tiba menjadi sok bijaksana.

“Aku pulang.” Ucapku sesampai di rumah
“Pergi untuk menyanyi lagi?, mau jadi apa kamu. Pengamen?” omel ayah
Aku hanya terdiam mendegar omelan ayah, masih juga aku harus menelan pahit perkataan seperti itu yang hampir setiap hari aku dengar.
“Lebih baik kamu belajar yang rajin, daripada mengikuti audisi-audisi tak jelas itu.” Ibu ikut mengomeliku. Aku berjalan ke arah pintu kamarku tanpa memperdulikan omelan mereka. Ku hempaskan tubuhku ke atas kasur, rasanya tulang punggungku mau patah saja. Tidak mudah menjadi sesuatu yang dianggap mustahil bagi orang-orang disekitarku. Ku pandangi sekeliling kamar tidurku, kapan terakhir aku membersihkannya ya?. Kalau tidak cepat-cepat dibersihkan pasti ibu akan bicara panjang lebar, dengan sedikit malas aku mengambil sapu untuk membersihkannya. Kamar ini mungkin lebih hancur daripada kapal pecah, kertas-kertas dan selebaran-selebaran yang menempel di sterofoam dinding meja belajarku hampir mirip mading sekolah, bahkan mungkin lebih banyak isinya dari isi mading di sekolahku. Benar-benar sangat keren bukan. Setelah ku selesaikan urusanku dengan kapal pecah itu, ku ambil sebuah buku berwarna kuning bertuliskan ‘Di sini aku berkarya’ yang aku tulis sendiri menggunakan spidol warna merah. Buku ini berisi lirik-lirik lagu beserta chord gitarnya, lagu yang aku ciptakan sendiri. Aku sering menyanyikannya ketika bernyanyi di jalanan ataupun ketika mengikuti audisi. Mengapa orang-orang disekitarku tak dapat mengerti, lalu bagaimana aku membuktikannya, harus berapa lama lagi akan terwujud. Harusnya mereka tahu sekarang aku sedang berusaha, harusnya mereka mengerti mimpi itu sesuatu yang berharga bagiku. Bagaimana sekarang aku dapat terus bertahan, dari terpaan badai yang mencoba membunuh impianku. Lama-lama aku bisa gila memikirkan semua hal ini, pikiranku merintih di bawah seribu kontradiksi. Lalu apa aku harus berhenti?. Ah tidak, aku tidak bisa menyerah secepat ini. Aku lebih baik mendengar decak kagum orang-orang yang sering melihat penampilanku ketika bernyanyi dan memainkan gitar. Karena mereka aku masih tetap pada pendirianku, karena mereka aku dapat mencipta lagu-lagu ini, karena mereka adalah kekuatan yang menyokongku. Pasti ada jalan lain yang lebih baik, entah nanti, besok, atau lusa. Bila masih ada keinginanku yang begitu kuat mana mungkin aku menyerah. Aku selalu mencintai mimpi dan keinginanku ini, maka aku akan tetap berusaha.

Ku ambil gitarku lalu duduk di tepi jendela kamarku. Lirih ku dendangkan sebuah puisi kehidupan dalam dentingan senar gitar, supaya hatiku lebih tenang. Ku pandang bintang di atas sana, dan bertanya padanya. Bagaimana kau bisa berdiri di atas sana dan memancarkan cahayamu yang begitu terang?, aku ingin menjadi sepertimu bintang.

 

Tema 6 How Crazy

Project #YUI17melodies

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s