Altair

Cinta, hal yang dulu pernah kau ajarkan padaku. Yang pernah aku pertahankan dengan susah payah, meski akhirnya angin menerbangkannya bersama abu musim panas. Kemudian waktu menuntunku ke masa dimana aku selalu mempertanyakan keadilan. Ternyata hidup tak semudah seperti yang aku bayangkan ketika aku masih kecil. Segitiga musim panas yang selalu kita cintai ternyata adalah kisah terakhir kau berpulang pada tuhan. Meski itu sudah 10 tahun lalu aku tak pernah melupakannya, dan tersimpan jelas di memoriku. Aku telah membuat Tanzaku untuk kita di festival Tanabata yang tinggal beberapa hari lagi. Kau pasti masih ingatkan?, ketika dulu kita membuat Tanzaku untuk kita sendiri kemudian melarungkannya di sungai pada malam hari, ketika itu segitiga musim panas menjadi saksinya. Kau tahu, selama 10 tahun ini aku melarungkannya sendiri. Aku sering mengingatmu ketika melalui jalan setapak menuju sungai, melewati taman hijau dengan bunga-bunga yang cantik. Aku jadi rindu padamu, Altair. Jika akhirnya kita harus berpisah seperti ini, harusnya dulu aku menolak untuk menjadi Vega-mu.

***

“Apa harapanmu untuk tahun ini?” tanyaku pada seorang anak lelaki seumuranku yang sedang sibuk dengan Tanzaku-nya. Dia melirikku sekilas lalu berkata,

“Rahasia.” Ujarnya sambil menyunggingkan senyumnya yang nakal

“Dasar pelit.”

Dia tetap tak berpaling padaku dan asik dengan dunianya sendiri.

“Sepulang sekolah ikut aku mencari bambu ya.”Ujarnya

“Untuk apa?”

“Tentu saja untuk festival Tanabata, lihat aku sudah membuat permohonan sebanyak ini, aku ingin melarungkannya sendiri di sungai.”

“Kau membuat permohonan sebanyak itu? itu namanya serakah.”

“Dasar nenek cerewet, mau ikut aku tidak?”

Dengan terpaksa aku menyetujui keinginannya, kalau bukan karena aku menyukainya tentu aku tidak akan mengikuti keinginan si tuan keras kepala ini. Anak lelaki ini seorang yang keras kepala jika memiliki keinginan besar, namun dia penuh semangat. Seakan tiada hari tanpa melihat senyum dan tawanya, semangatnya selalu mengalir seperti air, terkadang bergelora seperti ombak, dan tekadnya setegar batu karang. Itulah mengapa aku menyukainya.

Tepat di hari akan dimulainya festival Tanabata, cuaca sedang tidak bersahabat sejak pagi. Sesekali tetes air jatuh dari langit sedikit demi sedikit namun tidak mengurungkan orang-orang untuk melaksanakan festival itu. Kulit tanganku nampak kemerahan gara-gara mengikuti anak lelaki itu mencari bambu, yang pada akhirnya aku harus mendengar omelan ibu. Mataku mulai mengantuk, jam dinding menunjukkan pukul 10 malam, hujan masih belum berhenti. Anak lelaki itu juga belum muncul untuk menjemputku, dia bilang akan menjemputku jam 10 malam. Dia bilang akan melarungkannya lebih awal, tapi sampai sekarang dia belum datang kerumahku. Aku sampai bosan menunggu.

Beberapa menit kemudian terdengar suara sepeda masuk ke halaman rumahku, lalu buru-buru masuk ke teras dan mengetuk pintu. Dia memakai jas hujan warna hijaunya.

“Lama sekali, aku sampai bosan menunggu.” Omelku

“Dari tadi hujan deras sekali. Kalau begitu ayo kita pergi, pakai jas hujanmu.”

Tanzaku-nya bagaimana?” tanyaku khawatir

“Tenang aku sudah membereskannya, tidak akan basah.”

“Kau sudah mengikatnya di ranting bambunya juga?”

“Sudah nenek cerewet, lama-lama kau seperti ibuku saja.”

Aku cemberut karena kata-katanya itu, anak ini tidak bisa menjawab pertanyaan orang dengan baik-baik yang ada malah meledek. Dengan susah payah dia mengayuh sepedanya menembus hujan. Hujan saja tidak bisa menyurutkan tekadnya, anak keras kepala ini selalu membuatku terkesan.

Sepulang melarungkan Tanzaku, kami berteduh di sebuah gubuk kecil di pinggir jalan.

“Kita jangan pulang dulu, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

“Menunjukkan apa?” tanyaku tak sabar

“Segitiga musim panas.”

“Segitiga musim panas? Apa itu?”

“Memangnya kau tidak pernah mendengar legenda Tanabata, tentang Orihime dan Hikoboshi?”

“Apa hubungannya?”

“Segitiga musim panas adalah sebutan bagi bintang Altair, Vega, dan Deneb yang apabila bintang-bintang itu ditarik garis lurus akan membentuk sebuah segitiga besar di langit. Orihime dan Hikoboshi digambarkan sebagai bintang Vega dan Altair. Dan saat itu juga akan Nampak jalur yang disebut Milky way yang menghubungkan bintang Altair dan Vega, dalam legenda jalur itu digambarkan sebagai burung-burung yang menjadi jembatan bertemunya Orihime dan Hikoboshi.” Terangnya panjang lebar

“Dan juga hujan yang turun di malam Tanabata disebut Sairuiu, yang menurut legenda itu adalah air mata Orihime dan Hikoboshi yang menangis karena tidak bisa bertemu.” Lanjutnya

Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku mendengar penjelasan anak itu. Dia ini seperti tahu segalanya, aku menjadi semakin kagum padanya.

Menginjak masa remaja ketika kami berumur 15 tahun, dia mengatakan suatu hal yang baru pertama kali aku dengar dari mulutnya. Kata teman-temanku itu namanya pernyataan cinta. Aku si bodoh dan lugu ini tenyata bisa meluluhkan hati si keras kepala yang tahu segalanya itu. Dan kami selalu merayakan Tanabata berdua, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Warna-warni kertas Tanzaku sama halnya dengan hidup kami yang penuh warna. Namun itu tak bertahan lama ketika dokter memvonisnya menderita kanker, biasanya tak ada suatu apapun yang dapat membendung semangatnya tapi penyakit ini mampu mengalahkannya. Semangatnya kini kian hari kian meredup, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Hingga akhirnya dia harus masuk rumah sakit, dan mengatakan hal-hal aneh dari mulutnya yang membuatku ikut terpukul.

“Sepertinya aku akan segera mati.”

“Jangan bilang begitu, kau pasti bisa sembuh. Kemana semangatmu yang dulu, kau tidak boleh seperti ini.” Ujarku sambil terisak. Matanya yang dulu segagah elang menjadi sayu menatapku dengan sedih.

Tanzaku-tanzaku itu serasa tak berwarna lagi bagiku, di malam festival Tanabata aku melarungkannya sendiri dan mengikhlaskan kepergianmu tadi sore. Akhirnya tuhan memanggilmu. Mengapa Altair pergi meninggalkan Vega di malam Tanabata, bukankah harusnya mereka bertemu hari ini. Aku akan menunggu sampai segitiga musim panas itu muncul dan berharap menjadi Orihime dan Hikoboshi yang bertemu kembali meskipun hanya setahun sekali. Lalu Milky way yang akan menghubungkan kita, seperti yang selalu kita saksikan bersama dulu. Dan aku berjanji padamu akan selalu menunggumu seperti ini lagi di tahun-tahun yang akan datang ketika malam Tanabata tiba.

***

Ternyata kenangan 10 tahun lalu itu tak pernah hilang dari memoriku. Kini aku hanya seorang perempuan yang menunggu pagi di toko burger tengah malam. Sekarang pun aku masih setia menunggu segitiga musim panas untuk dapat bertemu denganmu, Altair. Terkadang aku menenangkan hatiku dengan menikmati indahnya kota, namun hatiku tak pernah bisa berubah. Kotak kayu kecilku masih penuh dengan Tanzaku yang belum terisi oleh permohonan-permohonanku, aku telah memikirkan banyak hal untuk aku tulis. Namun itu semua tak dapat mengembalikanmu lagi, Altair. Aku tak ingin menyesali masa lalu, aku akan menatap hari esok untuk menyalakan cahaya 10 tahun sebelumnya.

 

 

Catatan:

Tanzaku: Kertas 5 warna berisi berbagai permohonan yang biasanya diikatkan di ranting daun bambu yang membentuk pohon harapan pada perayaan Tanabata

Tanabata: Perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang yang dirayakan di hari ke-7 bulan ke-7 yang berdasar dari legenda bertemunya Orihime dan Hikoboshi setahun sekali

Orihime dan Hikoboshi: Pasangan suami istri yang akhirnya di pisahkan oleh raja karena Orihime tidak lagi rajin menenun dan Hikoboshi tak lagi menggembala sejak mereka menikah

Milky way: Jalur susu yang terbentang panjang diantara bintang Altair dan Vega

Segitiga musim panas: Sebutan untuk 3 bintang terang (Altair, Vega, Deneb) yang apabila ditarik garis lurus akan membentuk segitiga di langit yang menandakan musim panas akan segera tiba.

Tema 2: Green a.live

#YUI17melodies

Iklan

2 thoughts on “Altair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s