You Are My Friend (Cerpen)

cerpen you are my friend cover

‘Kamu adalah sahabatku, sedangkan aku seorang pengecut yang tak dapat membelamu.’

Airi, begitulah semua orang memanggilnya. Seorang gadis pendiam diluar namun sebenarnya dia sangat hangat, dan ceria didalam.

“Kau tau kenapa aku suka melihat awan dan matahari?” tanya Airi tiba-tiba padaku

“Memangnya kenapa?” tanyaku balik

“Karena jika mereka bersama kau akan melihat langit yang cantik seperti sekarang.” Katanya sambil mendongakkan kepalanya ke langit

“Benar, langit menjadi indah.”

“Lalu, aku tidak begitu suka mendung dan hujan.”

“Kenapa?” tanyaku

“Entahlah, mereka membuat langit tidak cantik langit, tidak lagi biru seperti sekarang.”

Aku memandang Airi yang tersenyum memandang langit. Menurutku Airi itu seperti matahari, dia selalu ceria dan tersenyum tiap waktu. Sedangkan aku seperti bunga yang tak dapat tumbuh jika tanpa matahari, jadi aku pikir Airi adalah matahariku. Dia selalu membuatku kembali merekah tiap aku patah semangat, selalu mendengarkan curhatanku, dan menghiburku jika aku sedih.

Airi mungkin matahari bagiku, tapi bagi Yuma, Airi itu seperti hal buruk yang harus disingkirkan. Aku terkadang tak habis pikir bagaimana bisa Yuma begitu membenci Airi hanya karena ia saudara tirinya. Padahal Airi tak pernah jahat padanya, tapi Yuma begitu bencinya pada Airi. Apa memang sikap seorang saudara tiri seperti itu?.

Aku, Airi dan Yuma adalah teman sekelas. Yuma suka meluncurkan kata-kata kasar bila matanya itu sudah menangkap sosok Airi. Tidak segan ia melakukan hal yang disengaja, seperti tiba-tiba dia menjegal Airi yang berjalan ke arahku. Yuma hanya tersenyum sinis dan pergi. Yang dapat kulakukan hanya membantu Airi berdiri dan mengobati lukanya, aku tak bisa membalas Yuma, membela pun aku tak sanggup. Ada apa denganku? apa aku terlalu takut pada Yuma yang tatapannya seperti iblis yang siap menerkam siapa saja yang berani melawannya?.

“Pagi, Airi.” Sapaku pada Airi yang baru datang

“Hai, pagi.” Balasnya dengan senyum khas yang memperlihatkan kedua lesung pipitnya

Airi berniat mengganti sepatunya dengan sepatu di loker, namun?!. Brakk!! Airi menjatuhkan sepatu dilokernya, bersamaan itu sebuah kertas melayang. Ada sebuah pesan dikertas itu yang ditulis dengan spidol merah, tulisan itu tidak begitu jelas bagiku karena aku berdiri cukup jauh dari Airi. Namun aku dapat membacanya dari gurat wajah Airi yang tiba-tiba berubah, apa itu pesan ancaman lagi, apakah dari Yuma?. Aku terpaku menatap Airi, lalu sebuah tangan menarikku paksa untuk menjauh dari Airi. Yuma menarikku agar meninggalkan Airi, aku tak dapat berbuat apa-apa, cengkeramannya begitu kuat dan cukup membuat lenganku sakit. Pandanganku semakin menjauh dari Airi yang masih berdiri dengan ekspresi sedih.

*****

Langit sore yang indah, sepulang dari sekolah. Aku, Airi, dan kedua teman yang tergabung dalam band kami pulang bersama-sama. Kami sempat berhenti disebuah padang rumput dan disana ada sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Kami bermain disana menghabiskan sore, sambil bernarsis ria serta bermain air.

Sepertinya sore tak kan pernah habis untuk kami, sang mentari masih gagah dilangit mega menjaga hari kami dengan indah, yang mungkin dapat menjadi cerita klasik kelak jika kami dewasa. Bunga-bunga kecil menjadi korban kreatifitas kami, membuat hiasan kepala dan cincin dari bunga-bunga kecil itu.

“Meskipun hari ini bukan ulang tahunmu, tapi aku akan menghadiahkan mahkota bunga yang cantik ini padamu.” Kata Airi

“Wah terima kasih. Ini cantik sekali, Airi.”

“Kalau begitu cincin bunga ini aku hadiahkan juga padamu.” Kataku

Airi mengucapkan terima kasih padaku sambil mengacungkan telapak tangannya ke langit yang kini jari manisnya berhias cincin bunga pemberianku.

“Ah, ini sangat manis.” Teriaknya gembira, dan aku pun tertawa.

“Apapun yang terjadi aku ingin kau selalu menjadi sahabatku.” Kata Airi

“Tentu, kita akan terus bersahabat. Sampai kita dewasa, sampai kita menjadi nenek-nenek.”

Kami pun tertawa bersama.

*****

Aku memandang langit yang mulai mendung di luar jendela kamarku. Apakah aku ini bisa disebut sahabat?, aku seperti menghianati janji persahabatan kami. Aku tak mampu membela Airi yang sedang terluka di sana. Apa Yuma juga melakukan hal yang sama padamu ketika di rumah? Apa kau juga tersakiti di sana?. Kemudian hujan mulai turun. Ah, bukankah Airi tidak suka hujan? Apa kau sedang menangis di sana?. Aku takut disakiti oleh Yuma, padahal kau lebih merasa sakit dari yang aku bayangkan, aku benar-benar pengecut.

Jam pelajaran dimulai, aku tak melihatmu hari ini Airi. Apa kau sakit?. Hingga bel jam pelajaran terakhir berbunyi aku hanya mendapati bangkumu yang kosong. Aku jadi teringat waktu itu, ketika aku melempar sebuah kertas padamu waktu pelajaran. Tiba-tiba aku ingin membuat sebuah band denganmu, padahal hal itu dapat dibicarakan nanti ketika istirahat. Tapi aku orang yang tak sabaran yang malah mengajakmu ngobrol ketika jam pelajaran berlangsung, lewat secarik kertas yang saling kita lempar. Kini bangku ini kosong, izinkan aku duduk sebentar di kursimu dan merasakan menjadi dirimu.

Aku melangkah gontai ke ruang latihan band, hanya ada Karin dan Arisa. Bagaimana kami dapat berlatih tanpamu?, sang vokalis. Mic yang sering kau genggam, tergelatak membisu menunggumu. Aku pun juga menantimu menyenandungkan lagu yang kita ciptakan bersama.

Akhirnya hari ini kami batal latihan. Dan aku duduk sendiri di tribun lapangan sepak bola sekolah. Melihat anak-anak lelaki bermain bola, mereka terlihat tertawa gembira. Langit siang berubah menjadi sore, ketika aku memandang langit aku jadi teringat padamu Airi. Sedang apa kau sekarang? Aku ingin bertemu denganmu sekarang.

Gantungan ponsel yang kita beli berdua itu masih tergantung cantik di ponselku. Ku putuskan untuk mengirimimu pesan, tapi aku tiba-tiba punya ide lain. Aku berlari ke ruang latihan band dan merekam bait terakhir lagu yang beberapa hari lalu aku ciptakan. Lalu mengirimnya pada Airi.

*****

Disebuah kamar yang tirainya tertutup rapat sehingga menghalangi cahaya masuk ke kamar itu, seorang gadis sedang memeluk sebuah bantal dan menenggelamkan wajahnya untuk menahan tangisannya.

Ponsel gadis itu berbunyi, tertera sebuah pesan dari seorang gadis yang menjadi sahabatnya selama ini. Sebuah pesan multimedia yang berisi rekaman suara.

Boku wa yowamushi de iya datta
Dakedo motto motto
Tsuyoku naru kara anata no koto wo
Mamoreru youna boku ni naru kara
Dakara, sukoshi mattete

(I’m a coward and unlikeable

But I will become

Stronger and stronger

I will become strong enough to protect you

So please, just wait a little while) *lagu Sawai Miku – Nakimushi*

Gadis itu menangis, tapi kini dia menangis karena terharu. Sahabatnya itu mencoba menghiburnya. Dalam hatinya dia berusaha untuk kembali bangkit, karena dari dirinya sendiri semua luka ini dapat dihapuskan.

Dia pun menelpon sahabatnya yang pasti kini mengkhawatirkan keadaannya,

“Halo, Yui.”

-Selesai-

*Cerpen ini terinspirasi dari lagu Sawai Miku berjudul Nakimushi* 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s