Penyelidikan Berdarah

Kenekatanku untuk datang ke gedung tua itu masih tak dapat menutupi rasa takutku. Gedung tua itu dulunya adalah sebuah sekolah, tapi 3 tahun yang lalu sekolah itu mengalami kebakaran besar sehingga menewaskan puluhan jiwa. Menurut desas-desus dari masyarakat sekitar gedung tua itu, tiap tengah malam selalu terdengar jeritan-jeritan misterius, serta cahaya aneh yang sekilas menampakkan bayangan hantu korban-korban kebakaran sedang berjalan-jalan dalam gedung itu.

“Gara-gara sifat sok detektifmu, kami berdua jadi mengikutimu ke gedung tua seram ini.” Gerutu Ibel, temanku. Di iringi anggukan setuju temanku yang lain bernama Karim.

“Habisnya berita kematian seorang gadis sebulan lalu di gedung ini tidak masuk akal, apa iya hantu bisa membunuh manusia?”

Kedua temanku itu hanya bisa menuruti jiwa ke-sok detektifanku. Malam semakin larut, cahaya bulan purnama memberikan efek seram pada gedung tua itu, dan membuat bulu kudukku berdiri. Senter yang kami bawa lumayan membantu memberikan kami penerangan ketika mulai masuk ke dalam gedung tua itu.

Semakin masuk kedalam, suasana mencekam semakin terasa. Ketika kami memasuki sebuah lorong yang menghubungkan tiap-tiap kelas, Ibel tersentak ketika senternya membidik sebuah jejak berdarah yang nampaknya sudah mulai hilang.

“Run, kita pulang saja yuk!!” rengek Karim

“Kita sudah menemukan petunjuk yang berharga, kita harus melanjutkannya.” Kataku mulai bersemangat

“Jejak ini, menuju ke tangga sebelah sana.” Tunjuk Ibel

“Kalau begitu ayo kita naik.” Ujarku

Karim berjalan dibelakang kami dengan menggerutu.

Kami terus menaiki tangga itu hingga ke atas, jejak darah itu belum juga habis. Hingga kami tiba dilantai tiga, nampak sebuah ruangan luas sepertinya bekas aula sekolah.

Dukk!! Dukk!! Daun jendela ruangan itu membuka dan menutup tertiup angin.

“Ini lebih horor dari film horor yang pernah ku tonton.” Ujar Karim

Ibel memeriksa sebuah lampu neon berukuran besar,

“Lihat, lampu neon ini masih bekerja.” Kata Ibel

“Aneh, di gedung tua yang jelas-jelas tidak ada penghuninya. Lampu neon ini masih dapat bekerja?”

Cklik.. cklik.. lampu neon itu menyala dan menyinari jendela aula.

“Jadi, cahaya aneh itu berasal dari lampu ini.” Ujarku

“Lalu bayangan hantu korban-korban itu bagaimana, Run?” tanya Ibel

“Hantu kan nggak kuat kalau kena cahaya, kayak di film-film itu lho, Run.” Ujar Karim

“Kebanyakan nonton film kamu, Rim.” Ujar Ibel sambil menjitak kepala Karim.

Aku terdiam dan mulai berfikir.

“Aku rasa ini memang bukan ulah hantu, mungkin ulah seseorang yang bersembunyi di suatu ruangan di gedung ini.”

“Maksudmu penjahat atau semacamnya, begitu?!” tanya Ibel

“Mungkin. Eh bukankah gedung ini lantainya ada empat, ayo kita naik ke atas mungkin saja kita bisa menemukan petunjuk lain.”

Ketika kami melewati tangga menuju lantai empat, kami menemukan sebuah sekop yang berlumuran darah yang mulai mengering.

Ruang di lantai empat lumayan luas, mungkin bekas gedung olahraga atau semacamnya. Ada jejak darah yang menuntunku menemukan mayat seorang gadis.

“Sepertinya hantu-hantu disini suka membunuh para gadis.” Kata Karim

“Apa mungkin hantunya itu seorang psycho?!” ujar Ibel

“Mana mungkin hantu membunuh manusia, pakai sekop lagi.”

Aku melihat bayangan dari balik punggung Ibel.

“Awas dibelakangmu, Bel!!”

Terlambat, bayangan tadi berhasil memukul Ibel yang membuat Ibel tersungkur ke lantai.

“Sial!!, aku tidak bisa melihat jelas kalau gelap seperti ini. Cahaya senter tidak cukup membantu.” Gerutuku dalam hati. Karim bersembunyi di balik punggungku sambil mulai menangis ketakutan.

Dueng!! Kakiku menyandung sebuah besi. Ku ambil besi itu sebagai senjata.

“Siapa kau?. Tunjukkan dirimu!!” teriakku dengan tanganku yang mulai gemetar.

“Kalian siapa? Apa kalian mau merebut pacarku juga?” tanya sebuah suara

Aku menyenter tepat dimuka seorang pemuda yang penampilannya seperti orang yang mengalami gangguan jiwa. Tangannya memegang sebuah sekop. Benar kata Ibel, yang kami hadapi adalah seorang psycho. Matanya mendelik dengan seram, dan mulai menyerangku dan Karim.

“Aaahhhh!!” jerit Karim, kakinya tersabet sekop si psycho itu. Karim terjatuh dan tak dapat berdiri. Keringat dingin semakin membanjiri sekujur tubuhku. Kami bertiga tidak boleh terbunuh di tempat ini. Si psycho itu mulai mengayunkan sekopnya, dengan cepat ku ayunkan besi yang ku pegang bak seorang samurai. Besi itu tepat mengenai punggung si psycho dan membuatnya terjatuh. Aku lekas membawa kedua temanku turun. Ibel sudah sadar dari pingsannya, aku menggendong Karim dipunggungku dan  kami berlari menuruni tangga. Derap langkah kaki si psycho terdengar, dia mengejar kami.

“Mau kemana kalian?, kalian harus mati!!!”

Aku cukup kesulitan berlari karena harus menggendong Karim. Tinggal satu lantai lagi, deru nafasku yang kelelahan semakin terdengar. Sebelum kami mencapai pintu keluar, dengan cepat si psycho itu menghadang kami.

“Sekarang kalian tidak bisa lari!!”

Si psycho itu mengayunkan sekopnya ke arahku, aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku tak lagi memegang senjata, percuma jika aku melawan si psycho ini yang nampaknya haus akan membunuh. Aku hanya dapat menutup mataku dan mulai berdo’a. Tapi tiba-tiba…

Jdaakkk!! Si psycho itu roboh dan kepalanya berdarah. Ibel telah menyerangnya dari belakang. Aku terduduk lemas, kami hampir kehilangan nyawa malam itu.

 

 

 

*psycho: sebuah gangguan psikologis yang berhubungan dengan kejiwaan

 

#FF Halloween YUI17melodies

Iklan

One thought on “Penyelidikan Berdarah

  1. Ping-balik: Daftar Tulisan #FFHalloween | #YUI17Melodies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s