Penyelidikan Berdarah

Kenekatanku untuk datang ke gedung tua itu masih tak dapat menutupi rasa takutku. Gedung tua itu dulunya adalah sebuah sekolah, tapi 3 tahun yang lalu sekolah itu mengalami kebakaran besar sehingga menewaskan puluhan jiwa. Menurut desas-desus dari masyarakat sekitar gedung tua itu, tiap tengah malam selalu terdengar jeritan-jeritan misterius, serta cahaya aneh yang sekilas menampakkan bayangan hantu korban-korban kebakaran sedang berjalan-jalan dalam gedung itu.

“Gara-gara sifat sok detektifmu, kami berdua jadi mengikutimu ke gedung tua seram ini.” Gerutu Ibel, temanku. Di iringi anggukan setuju temanku yang lain bernama Karim.

“Habisnya berita kematian seorang gadis sebulan lalu di gedung ini tidak masuk akal, apa iya hantu bisa membunuh manusia?”

Kedua temanku itu hanya bisa menuruti jiwa ke-sok detektifanku. Malam semakin larut, cahaya bulan purnama memberikan efek seram pada gedung tua itu, dan membuat bulu kudukku berdiri. Senter yang kami bawa lumayan membantu memberikan kami penerangan ketika mulai masuk ke dalam gedung tua itu.

Semakin masuk kedalam, suasana mencekam semakin terasa. Ketika kami memasuki sebuah lorong yang menghubungkan tiap-tiap kelas, Ibel tersentak ketika senternya membidik sebuah jejak berdarah yang nampaknya sudah mulai hilang.
Baca lebih lanjut