Menunggu lampu hijau

 

Siang yang terik membuatku bermandikan keringat, kalau bukan karena gadis manis itu aku tidak mungkin sampai harus bercucuran keringat begini, kalau bukan karena gadis manis itu pula aku tak mungkin menjejakkan kakiku di tanah Padang dengan terpaksa. Iya kini aku berada di Padang tepatnya di Bukit Tinggi, dan siang ini kami berjanji akan bertemu di Jam Gadang. Masih terasa asing bagiku datang ke kota ini sehingga aku harus bolak-balik bertanya pada orang-orang di pinggir jalan, dan akhirnya aku putuskan untuk naik kendaraan umum saja daripada tersesat. Kalau bukan karena gadis manis itu aku tak akan melakukan hal yang konyol ini, hanya demi seorang gadis.

Nia, nama gadis manis itu. Kami dulu satu kampus di sebuah Universitas negeri di Surabaya. Wajah dan senyumnya yang manis telah membuatku terpesona. Aku menyukainya dari semester awal, namun aku tak sanggup untuk mengatakan bahwa aku menyukainya. Hingga semester akhir, baru aku memberanikan diri mengutarakan perasaanku, hal ini karena aku takut tak dapat melihatnya lagi karena dia bilang akan kembali ke Padang dan bekerja di sana. Nia bilang akan menjawab perasaanku sepulangnya dari Padang, tapi Nia tak kunjung kembali ke Surabaya. Ada apa sebenarnya? Apa Nia takut hatiku terluka karena ternyata Nia menolak perasaanku?, tapi bukan begini caranya.

Sebulan kemudian, ponselku berbunyi dan terpampang nama Nia di layarnya. Hatiku berdebar-debar dan tanganku gemetar ketika aku mendapat sebuah sms dari Nia, Nia bilang akan menjawab perasaanku di Jam Gadang. Dan itu berarti Nia ingin aku pergi ke Padang. Apa Nia begitu kejamnya padaku?, Nia tau sendiri aku paling benci naik pesawat, mabuk udara adalah hal yang paling memuakkan. Tapi demi Nia akhirnya ku luluskan ketakutanku, demi melihat Nia lagi apapun aku lakukan, asal Nia tak menyuruhku terjun ke laut saja, Nia tak akan sekejam itu kan?. Baca lebih lanjut

Iklan