Latte of love

Ku sandarkan punggungku pada kursi kayu dekat jendela disebuah kafe sambil menunggu pesanan kopiku. Beberapa menit kemudian seorang pelayan kafe mengantarkan kopi yang telah aku pesan. Aroma latte yang aku suka sedikit meredakan kejenuhanku hari ini. Ku angkat cangkirnya dan menghisap tiap aroma ketenangan, kehangatan, serasa ada kau saat ini bersamaku. Aku rasa akan sangat menyenangkan jika kau juga ada disini menikmati secangkir kopi latte berdua denganku menghabiskan hari yang terus mendorong kita menjadi dewasa. Tapi aku sadar, aku hanya sendiri disini menikmatinya tanpamu.

Perselisihan kita membuat keadaan menjadi memburuk, mungkin kita belum cukup dewasa untuk saling mengerti, atau karena kita sama-sama keras kepala dan egois. Sayang rasanya ingin meminum kopi yang tergambar sebuah hati diatasnya, haruskah aku mengaduknya hingga gambar hati itu tak terlihat lagi olehku seperti berusaha menghapus perasaanku padamu. Akan beda rasanya ketika aku bisa duduk berdua denganmu disini, sambil menunggu pesanan kopi dan membicarakan hal-hal yang kita suka.

“Rin.” Sapa seseorang

Aku terkejut. Apa ini nyata?, apa tuhan begitu cepat mengabulkan permohonanku?. Orang itu berdiri terpaku melihatku, begitu pun aku.

“Boleh aku duduk disini?” tanyanya meredam keterpakuan kami. Aku mengangguk pelan. Sedetik, dua detik, bahkan mungkin lebih dari 5 menit kami tak saling melontarkan sebuah kalimat. Baru ketika kopi pesanannya datang dia berbicara padaku,

“Mari minum.” Tawarnya, kata-katanya seakan kita berdua seperti orang yang baru bertemu dan kenal untuk pertama kali. Apa sejauh inikah hati kita sekarang?, apa kau telah mengubur semua perasaanmu padaku?, kak Ken.

“Ternyata kau masih suka datang kesini ya?” tanyanya

“Tidak juga.”

“Oh, Beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu disini. Tempat yang jarang kau datangi.”

Kata-kata terakhirnya dia tekankan seperti sengaja ingin berkata padaku, “ Ternyata kau sudah melupakan tempat ini, baguslah.”

Meski kau berusaha membuatku membencimu tapi aku tak bisa membencimu, sedikit saja aku berusaha membencimu hal itu malah melukai hatiku. Perasaan ini seperti menggantung, bahkan untuk memastikan dan membicarakan denganmu sekarang sangat sulit rasanya untukku. Sikapmu yang berpura-pura tidak tahu itu, selicik itukah caramu untuk membuatku menangis dan memohon padamu.

Menumbuhkan rasa cinta dan menjalani hari-hari dimana kita berselisih. Aku lebih baik memilih hal itu daripada seperti ini, jujur aku lebih bahagia jika harus berkali-kali terluka oleh perkataanmu. Keputusan memilih jalan yang berbeda membuatku tak dapat mengatakan padamu, bahwa aku masih menyayangimu.
Baca lebih lanjut