Kisahku dan ibu

Tokyo..

Kota yang begitu sibuk, dimana-mana orang berlalu lalang dan berlomba-lomba mencapai tempat tujuan untuk sebuah pekerjaan ataupun keperluan. Kini aku berada dan hidup ditengah-tengah mereka, merasakan damaiku, merasakan gejolak mimpiku.

Triiit.. triiit.. ponselku berbunyi

“Halo, hari ini rekaman pertama akan dimulai. Kau sudah siap Yui?“ tanya manajerku

“Tentu.“

Ku tutup ponselku kemudian menatap pemandangan diluar kereta. Sudah 3 tahun aku di sini berjuang untuk mewujudkan mimipiku. Ketika sedikit demi sedikit orang mengenalku, menyukai laguku, aku semakin bangga. Tapi ada satu hal yang aku rasa kurang di dalam hidupku, yaitu kehadiran ibu. 3 tahun tak merasakan pelukan ibu, tak mendengar omelan ibu, tak melihat wajah ibu, ku rasa aku merindukannya.

 

3 tahun lalu…

 

Ibu tidak pernah setuju jika aku menjadi penyanyi. Pertengkaran sering terjadi karena sifat kami yang keras kepala, ibu akan terdiam jika aku membawa nama ayah dalam perbincangan, tapi ku rasa itu benar hanya ayah yang memahamiku. Beliau selalu mendukungku, bahkan membelikanku gitar sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya karena leukemia. Ibu bilang mimpiku itu hanya membuang-buang waktu, ibu ingin aku meneruskan usaha ibu di toko. Aku tidak perduli apapun kata ibu, aku hanya ingin mewujudkan mimpiku ini. Ibu bahkan pernah dengan tega menjual gitarku ke penjual barang bekas keliling,

“Ibu, apa ibu lihat gitarku “

“Oh.. benda tak berguna itu? sudah ibu berikan ke penjual barang bekas keliling.“

“Apa? ibu tega sekali.“ geramku, lalu berlari keluar mencari penjual barang bekas keliling itu.

Setelah bernegosiasi akhirnya ku dapatkan gitarku kembali.

“Untuk apa mengambilnya lagi?“ tanya ibu

“Ini mimpiku bu, benda ini berharga untuk mewujudkan mimpiku.“

“Jangan memaksakan egomu nak, ibu tau kau mengikuti banyak audisi tapi kau hanya mendapat kegagalan. Berhentilah mengejar hal yang tidak pasti nak!“

“Kenapa ibu tidak bisa memahamiku! “ bentakku.

 

Semilir angin di luar jendela kamarku begitu sejuk malam ini, ingin rasanya aku bertanya pada ayah di atas sana apa mimpiku ini salah?, apa aku terlalu keras kepala?, aku jadi rindu ayah.

Mungkin hanya satu cara agar tak ada orang yang menghalangiku lagi. Aku memutuskan untuk kabur dari rumah, hanya ku titipkan selembar kertas di meja kamarku untuk ibu. Semoga ibu mengerti.

 

***

 

“Yui, ada orang yang ingin bertemu denganmu.“ kata manajer

Ternyata itu sahabatku, Younha.

“Selamat atas kesuksesanmu.”

“Terima kasih, lama tidak bertemu ya.”

“Iya benar. Oh iya aku ke sini tidak sendiri lho!”

“Kau kesini dengan siapa?”

“Dengan seseorang yang pasti sangat kau rindukan, ibumu.”

“I.. ibu?!”

Senyum lembut itu menghapus keegoisanku, tangannya yang sedikit keriput meraba lembut pipiku. Aku hanya dapat menangis dan meminta maaf.

“Ibu yang harusnya minta maaf nak. Ibu bangga padamu.“ kata ibu dengan mata berkaca-kaca

“Terima kasih ibu, Yui sayang ibu.“ kataku, lalu memeluk ibu erat

Rasanya sudah berabad-abad aku tak memeluknya, betapa dosanya aku. Kini ada ibu di sampingku, aku rasa kebahagiaanku sudah lengkap.

Iklan

5 thoughts on “Kisahku dan ibu

  1. Ping-balik: [Tema 6] Kisahku dan Ibu | #YUI17Melodies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s