Because of you, My friend

Ku langkahkan kakiku di jalanan aspal berwarna abu-abu itu sambil membawa case gitarku. Hari ini aku akan merampungkan penggarapan lagu untuk album baruku.

Di persimpangan jalan pertokoan aku menyetop sebuah taksi, belum sempat ku buka pintu taksi itu aku mendengar sebuah alunan lagu. Rasanya aku pernah mendengarnya.

Perlahan kakiku berjalan menuju tempat asal lagu itu dimainkan,

“Nona, jadi naik taksi tidak?!“ seru sopir taksi menegurku

Tapi seakan seluruh tubuhku terhipnotis lagu itu aku tak memperdulikan teguran sopir taksi.

Aku terus mecoba mengingat dimana aku pernah mendengar lagu itu,

“Lagu.. lagu ini.“ aku bergumam tidak jelas

Lagu ini, aku ingat dimana aku pernah mendengarnya. Lagu yang pernah aku dengarkan dengan seseorang dimasa lalu.

 

6 tahun lalu…

 

Seragamku penuh serbuk kapur, aku tidak habis pikir pada mereka. Apa salah seseorang yang tidak cantik dan tidak pintar sepertiku bersekolah di sekolah mereka. Ini sudah kesekian kalinya mereka membullyku, sekujur tubuhku sudah dipenuhi luka-luka kecil akibat dari perbuatan mereka. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa meringis menahan perih dan menangis.

Ku jatuhkan tubuhku dihamparan padang rumput merasakan semilir angin yang terdengar menertawai kebodohanku, apa aku ini tak pantas hidup di dunia ini?!

“Hei kau, jangan membuat rumput hijau ini jadi kotor“ tegur seseorang padaku

Aku bangkit dan menunduk minta maaf pada orang itu, kali ini siapa lagi? apa aku berbuat salah lagi? apa mengotori seluruh tubuhku dengan serbuk kapur  tadi belum cukup?!

“Cepat bersihkan badanmu, kau membuat warna rumputnya jadi putih.“ kata orang itu yang kini aku rasa berdiri tepat didepanku, orang itu menyodorkan sehelai sapu tangan padaku.

“Cepat bersihkan jangan menunduk saja!!“ katanya sedikit membentak

Ku angkat wajahku, anak laki-laki itu masih mengacungkan sapu tangannya didepanku. Otakku mulai berpikir apa dia berniat baik atau buruk padaku, rasanya aku belum pernah melihatnya.

“Hei kau, kenapa bengong saja. Kau bodoh atau apa sih?!“

Dia sepertinya gemas melihat gelagatku yang kolot, dia segera mengibaskan sapu tangannya pada lengan seragamku membersihkan serbuk kapur yang mengotorinya.

“Apa kau murid baru? sepertinya aku tidak pernah melihatmu?“ tanyanya

Aku mengangguk.

“Kau bisu ya, dari tadi aku berbicara panjang lebar kau hanya diam saja.“ omelnya

“Ma.. maaf.“ kataku

“Tidak keren, murid baru sudah dibully. Apa kau berbuat salah?“

“Mungkin karena aku tidak cantik dan tidak pintar seperti mereka.“

“Dan juga kau itu kolot dan pendiam. Kau mau selama bersekolah disini terus dibully mereka?, bangkitlah tunjukkan pada mereka kau tidak lemah.“

Aku tertegun mendengar kata-katanya, dia ini membelaku kah?? aku hampir menampar pipiku sendiri, tidak percaya kalau masih ada manusia yang perduli padaku.

 

======

 

Di hari lain,

“Hei kau jangan berdiri terus di sana, cepat kemari!“ seru anak laki-laki itu

Ahh dia lagi, dan lagi-lagi dia memergokiku dengan seragam yang kotor.

“Sudah aku bilang jangan diam saja, seragammu kotor lagi kan?!“ omelnya

Aku hanya menunduk.

“Ayo ikut aku, aku antar pulang.“

“Eh tidak, aku bisa pulang sendiri.“

“Cerewet, ayo ikut aku.“ katanya sambil menggandeng tanganku

“Bawakan case gitarku, naiklah dan aku akan mengantarmu pulang. Ok!!“

Aku hanya diam dan menggangguk, aku pikir dia tidak akan menjahatiku.

Entah kemana dia mengayuh sepedanya, aku rasa dia tidak ingin benar-benar mengantarku pulang.

Dia membelokkan sepedanya ke jalanan berbatu, tubuhku berguncang berkali-kali.

“Mau kemana kita?“ aku memberanikan diri bertanya

“Ke sungai, aku akan mengajarimu kungfu.“

“Eh?“

“Tidak, aku hanya bercanda.“ katanya lalu tertawa

Sampailah kami di tempat yang dia maksud, sungai dengan air yang jernih.

“Kemarilah, ikuti caraku. Duduklah didekatku lalu masukkan kakimu ke sungai.“

Dengan polosnya aku melakukan apa yang dia katakan. Rasanya geli ketika sekawanan ikan mengerubuti kakiku.

“Nah begitu baru benar, jangan sedih terus.“ katanya ketika melihatku tersenyum

Aku tersenyum padanya,

“Ini sangat menyenangkan.“ kataku

“Kalau aku boleh tau, apalagi yang mereka lakukan padamu hari ini?“

Aku menghela nafas, teringat menit-menit dimana aku seperti mainan yang mereka lempar kesana kemari.

“Sama seperti hari-hari yang lain, mereka mengejekku, melempariku dengan penghapus dan mendorongku kesana kemari.“

“Lalu kenapa kau diam saja? kenapa tidak melawan?“

“Aku bukan laki-laki sepertimu, aku ini perempuan.“

“Kalau begitu aku yang akan melindungimu.“

“Eh?“

“Kau tidak mendengar cerita ada seorang murid yang bunuh diri gara-gara terus dibully?“

“Iya aku tahu.“

“Murid itu bertetangga denganku, dia sama sepertimu. Aku menyesal tidak bisa melindunginya, dia anak yang baik.“

“Aku tidak akan melakukan hal senekat itu, seperti katamu aku harus kuat dan berani.“

“Baguslah.“

Dia mengambil earphone didalam saku jas seragamnya lalu meletakkan satu ujung earphone itu ke telingaku dan satu ujungnya dia pakaikan ditelinganya.

“Apa ini? aku tidak mendengar apa-apa.“ kataku

“Aku memang sengaja tidak memutar lagunya.“

“Apa maksudnya?, aku tidak mengerti.“

“Kau tidak mendengar apa-apa kan dari earphone ini. Apa yang tidak ingin kau dengar, kau tidak perlu mendengarnya. Jika mereka mengejekmu tidak perlu kau hiraukan.“

“Ohh!“

Anak laki-laki itu memencet tombol play dan alunan musik terdengar mengalun di telingaku.

“Ngomong-ngomong, siapa namamu?“ tanyanya

“Namaku Yuki, Yuki Yoshiri. Kau?“

“Namaku Okamoto Riku.“

“Terima kasih ya Riku, kau mau berteman denganku.“

Riku mengangguk pelan, matanya terpejam mendegar alunan lagu dari earphone

“Bagaimana menurutmu lagu ini?“ tanya Riku

“Bagus, aku rasa aku baru pertama kali mendengar lagu ini.“

“Memang kau orang pertama mendengarnya, Yuki.“

“Eh?“

Riku melepas earphonenya

“Aku yang membuat lagu ini sendiri.“

“Benarkah?, jadi ini lagumu?“

“Iya.“

Riku mengambil gitarnya lalu memainkan lagu yang sama seperti yang aku dengar tadi.

Setelah lagu itu selesai dimainkan aku bertepuk tangan kagum padanya,

“Bagus tidak?“

“Bagus, sepertinya aku bisa memainkannya juga.“

“Kau? memangnya kau bisa main gitar?“ tanya Riku heran

“Tentu saja.“ kataku, lalu mengambil gitar Riku dan memainkan lagu yang sama.

“Kau gadis pertama yang memainkan lagu buatanku.“

Aku tertawa,

“Hebat bukan?“

Riku mengangguk kagum.

 

Sejak hari itu Riku dan aku berteman akrab, Riku selalu ada disampingku, dia yang membelaku dari para penindas itu. Lambat laun perasaan ini tak bisa aku bohongi lagi, aku menyukai Riku. Tapi aku tak ingin mengungkapkannya, kami adalah teman, aku tak ingin dia membenciku karena aku menyukainya.

 

Hari kelulusan sekolah. Ku lihat Riku terlihat keren dengan setelan jas berwana hitam itu.

“Aku akan pergi ke luar negeri, aku berharap kau mau menyimpan earphone ini.“ kata Riku sambil memberikan earphonenya padaku.

“Kita tidak akan bertemu lagi?“ tanyaku sedih

“Pasti kita bisa bertemu lagi, tapi kau harus berjanji padaku.“

“Apa?“

“Jadilah musisi yang hebat, kau punya bakat bermusik yang bagus, Yuki.“

“Baiklah, aku janji.“

Riku mengacungkan jari kelingkingnya, lalu aku tautkan jari kelingkingku pada jarinya.

“Janji ya, Yuki Yoshiri.“

“Iya, Okamoto Riku.“

Lambaian tangan Riku menandakan akhir pertemuan kita siang itu di sekolah.

 

***

 

Aku masih berdiri tertegun hingga lagu itu hampir selesai. Aku bergegas mencari asal suara dari lagu itu. Aku mendapati sebuah toko musik, dari situlah suara lagi itu berasal.

“Ada yang bisa kami bantu?“ tanya pelayan toko itu ramah

“Lagu yang barusan diputar, kau tau siapa penyanyinya?“

“Ohh lagu tadi, penyanyinya adalah Okamoto Riku.“

“Benarkah?“

 Benar nona, ini kasetnya.“

Aku memandang tak percaya, cover albumnya adalah fotoku bersama Riku ketika acara kelulusan sekolah. Tanganku gemetar, jantungku berdegup kencang, air mataku mulai menetes. Ternyata kau tidak pernah melupakanku, temanku. 🙂

-My Friend-

Iklan

2 thoughts on “Because of you, My friend

  1. Hai, Vy 😀
    Mumpung belum deadline. Mau edit beberapa typo di tulisan kamu ga?

    Begini, usahakan sebelum dan sesudah tanda petik pada dialog tidak perlu dispasi. Lalu, diujung kalimat tambahkan titik (jika ujungnya bukan tanda seru atau tanda tanya).
    Lalu untuk penanda alur maju dan mundurnya, bisa pakai tanda *** di ujung paragraf dengan meletakkannya di tengah. Kemudian agar tidak membingungkan yang baca, diawal kalimat bisa ditambahkan “Satu tahun yang lalu…” atau “Satu tahun kemudian” atau “Pikiranku melayang pada kejadian satu tahun yang lalu…”. Itu hanya contoh saja.

    Ganbatte! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s