Fanfic YUI ” To mother ” (One shot)

Cast :

YUI as yoshioka yui

Ikuta toma as ikuta toma

Rating : G

Genre : Family

YUI pov

Mimpiku tidak pernah berubah hingga hari ini, aku ingin bernyanyi dan menjadi penyanyi. Ku tatap gitar usang yang bersandar di tembok dekat jendela. Gitar itu pemberian dari ayah 8 tahun lalu ketika ulang tahunku yang ke 12, dengan begitu juga ku rasakan nostalgia semasa ayah masih hidup. Ku pecahkan celenganku, ada cukup uang untuk membeli gitar baru. Aku rasa ibu tidak akan menyetujui keinginanku ini, ibu tidak mau aku menjadi penyanyi. Aku selalu berbeda pendapat dengan ibu, aku terkadang merasa ibu bukanlah ibu kandungku sendiri.

“ Yui, sebentar lagi liburan musim panas. Bantulah ibu di restoran, jangan terus menurus mengurusi hobimu yang tidak jelas itu.. “ tukas ibu

“ Tapi ini mimpiku bu, kenapa ibu masih juga tidak menyetujuinya.. “

“ Kau pikir hanya dengan bermain gitar dan bernyanyi itu akan memberikan masa depan padamu, itu hanya membuang-buang waktu. Lebih baik mencari pekerjaan yang sudah jelas di depan mata seperti meneruskan bisnis restoran keluarga kita.. “

“ Ibu tidak pernah mengerti aku, hanya ayah yang bisa mengerti aku.. “ teriakku

Ibu terdiam jika aku membawa nama ayah dalam perbincangan, tapi ku rasa itu benar hanya ayah yang memahamiku. Beliau selalu mendukungku, bahkan membelikanku gitar sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya karena leukemia.

Aku tidak perduli apapun kata ibu, aku hanya ingin mewujudkan mimpiku ini.

“ Hei babi kecil, kenapa murung ? bertengkar lagi dengan ibumu ? “ tanya toma, sahabatku dari kecil. Dia selalu memanggilku babi kecil, karena dulu aku sangat gendut.

Ku tendang sebuah kerikil ke sungai hingga menimbulkan percikan air.

“ Kenapa ibu masih juga tidak mengerti, beliau pikir ini hanya hal yang sia-sia hanya membuang-buang waktu.. “ ujarku kesal

“ Mungkin kata-kata ibumu ada benarnya “

“ Kenapa kau malah membelanya ? “

“ Bukan begitu yui, bisnis restoran keluargamu itu kan juga penting. Kalau bukan kau siapa lagi yang akan meneruskannya, benarkan ?? “

“ Huuuh.. kalian tidak mengerti aku.. “ gerutuku sambil melempar sebuah kerikil ke sungai

“ Jangan mengutamakan egomu, hal itu bukankah sudah sewajarnya tanggung jawabmu juga untuk meneruskan bisnis restoran.. “

Aku memandang toma kesal, “ Entahlah terserah kau. Aku mau pergi untuk membeli gitar baru, aku akan menunjukkan padamu kalau nantinya mimpiku ini akan menjadi nyata, jangan pernah meremehkanku.. “

Toma hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataanku.

++++++++++

“ Pesanan untuk meja nomor 10 “

“ Baiikk.. “ seruku sambil mengambil nampan dan menaruh menu yang telah dipesan, kemudian mengantarkannya pada nomor meja yang di sebut.

Hari pertama musim panas ini, aku membantu ibu di restoran. Ibu memiliki 8 orang pekerja, meskipun begitu ibu tetap menyuruhku untuk membantunya agar aku tau apa saja kesibukan yang dikerjakan di restoran keluarga kami ini.

Jam 12 siang saatnya istirahat. Aku berencana menghibur pelanggan restoran dengan permainan gitarku.

“ Ibu bolehkah aku melakukannya ? “ tanyaku penuh harap

“ Huff.. baiklah terserah kau.. “ ujar ibu agak jengkel

Ku lakukan pertunjukan sebisaku, meski pertunjukanku ini tidak diterima sepenuhnya oleh mereka. Aku tau aku belum begitu mahir, ku selesaikan laguku dengan tetap tersenyum meski tak ada satupun yang memujinya.

“ Bukankah ibu sudah bilang, bernyanyi itu tidak gampang. Kau hanya membuang waktumu nak.. “

“ Ini masih permulaan bu, aku pasti bisa lebih baik dari hari ini.. “ ujarku yakin.

Toma memberitauku ada banyak orang yang memiliki minat sepertiku melakukan pertunjukan di stasiun-stasiun kereta api, pertokoan, taman, pantai. Mereka bernyanyi sesuka hati setiap hari, ataupun semau mereka. Aku ingin mencoba cara itu.

Sore ini dengan tekadku aku melakukan pertunjukan di sebuah taman, benar kata toma ada banyak orang yang memiliki minat sepertiku mereka bernyanyi dengan bermain gitar menyanyikan lagu-lagu artis ataupun lagu ciptaan mereka sendiri.

Aku termasuk anak baru dalam dunia seperti itu, meski tiap hari aku melakukan pertunjukan tak ada satupun orang yang bersedia duduk sebentar untuk melihatku bernyanyi bahkan ada yang melemparkan uang, mungkin mereka pikir aku pengamen.

Malam itu aku mencoba menenangkan diriku sendiri di tepi pantai sambil melihat indahnya hiasan langit yang maha indah itu.

“ Hey babi kecil.. “ ujar toma sambil memukul pundakku hingga menghentikan lamunanku.

“ Ada apa ? “ tanyaku tak bersemangat

“ Bagaimana mimpimu, sudah menjadi nyatakah ? “ tanya toma dengan maksud meledekku

“ Kau senang ya melihat keadaanku yang seperti ini ? “

“ Hahaha.. aku hanya ingin tau sejauh apa usahamu, apa semudah ini untuk menyerah ? “

“ Lalu apa yang harus ku lakukan ? “

“ Tanyakan sendiri pada hatimu, bukannya ini yang kau mau. Kalau ingin mewujudkannya jangan pernah ada kata menyerah.. “

Ku berantakkan rambut toma, “ Huuu.. sok tau.. “

Toma tertawa melihat tingkahku.

++++++++++

Toma mengenalkanku pada seorang gitaris yang memiliki band cukup terkenal di fukuoka, aku berlatih gitar padanya. Aku mendapat buku untuk berlatih gitar di rumah, kemana aku pergi selalu ku bawa. Itu juga membuat ibu semakin jengkel dengan tingkahku.

“ Masih banyak pekerjaan, jangan berkutat pada buku dan gitarmu itu saja.. “ omel ibu

Aku hanya mendengus kesal.

“ Yuiii… kau belum cuci bajumu, lihat sudah bertumpuk seperti ini jangan jadi pemalas begitu.. “

“ Yuiii… kau belum menyiram bunga-bunga, cepatlah !! kau mau mereka layu.. “

Ibu terus mengingatkanku dengan hal-hal yang belum aku kerjakan.

Ibu membuka pintu kamarku,

“ Apa seperti ini kerjaanmu, ibu tidak segan-segan menjual gitarmu itu kalau kau jadi pemalas seperti ini.. “

“ Tapi bu aku harus… “

“ Sudah jangan protes terus, kalau kau seperti ini mau jadi apa hah ?. Buang hayalan konyolmu itu dan cepat bantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah.. “ lalu ibu menutup pintu dengan keras. Ku banting buku yang aku pegang, rasanya ingin kabur saja dari rumah.

Lembutnya aliran sungai membuat rasa dingin dikakiku dan ikan-ikan yang berkeliaran disekitar kakiku membuatku geli.

“ Babi kecil, lihat aku punya sesuatu untukmu “

Toma memberiku lembaran audisi,

“ Mau mencoba keberuntungan ? “ tanya toma

“ Ada beberapa tehnik yang belum ku kuasai.. “

“ Apa salahnya mencoba dulu, dengan begitu kau punya pengalaman ikut audisi kan ? “

Ku tatap lembaran itu, mencoba meyakinkan hatiku. Lalu ku tatap toma dan ku anggukan kepalaku tanda setuju. Meski tak lolos pun yang penting ini awal dari usahaku.

++++++++++

Hari ini panas sekali, ku putuskan untuk berendam sambil merenungkan audisi-audisi yang telah aku ikuti meski itu semua gagal. Terkadang rasanya aku ingin menyerah dan pasrah. Tapi toma selalu menyemangatiku, toma seperti ayahku saja atau jangan-jangan dia reinkarnasi ayahku, ah.. pikiran yang bodoh.

Ku niatkan hari ini aku ingin berusaha lagi. Tapi ketika aku masuk ke kamar gitarku sudah tidak ada,

“ Ibuuu.. apa ibu lihat gitarku ? “

“ Oh.. benda tak berguna itu ? sudah ibu berikan ke penjual barang bekas keliling “

“ Apa ? ibu sudah gila ya ? “ tanyaku geram lalu berlari keluar mencari penjual barang bekas keliling itu.

Setelah bernegosiasi akhirnya ku dapatkan gitarku kembali.

“ Untuk apa mengambilnya lagi ? “ tanya ibu

“ Ini mimpiku bu.. Benda ini berharga untuk mewujudkan mimpiku.. “

“ Jangan memaksakan egomu nak, ibu tau kau mengikuti banyak audisi tapi kau hanya mendapat kegagalan. Berhentilah mengejar hal yang tidak pasti nak.. “

“ Kenapa ibu tidak bisa memahamiku !! “ bentakku

“ Ibu tidak ingin kau menjadi artis kemudian terluka karena berita-berita buruk tentang dirimu, ibu hanya ingin melindungimu. Apa itu salah ? “ ujar ibu dengan sedih

Aku terdiam, inikah alasan mengapa ibu tak ingin aku menjadi penyanyi ?!

Semilir angin di luar jendela kamarku begitu sejuk malam ini, ingin rasanya aku bertanya pada ayah di atas sana apa mimpiku ini salah ?, apa aku terlalu keras kepala ?, aku jadi rindu ayah.

Mungkin hanya satu cara agar tak ada orang yang menghalangiku lagi. Aku memutuskan untuk kabur dari rumah, hanya ku titipkan selembar kertas di meja kamarku untuk ibu. Semoga ibu mengerti.

++++++++++

Tokyo..

Kota yang begitu sibuk, dimana-mana orang berlalu lalang dan berlomba-lomba mencapai tempat tujuan untuk sebuah pekerjaan ataupun keperluan. Kini aku berada dan hidup ditengah-tengah mereka, merasakan damaiku, merasakan gejolaknya mimpi dan perasaanku, dan juga keinginanku.

Triiit.. triiit.. hpku berbunyi

“ Moshi-moshi.. hari ini rekaman pertama akan dimulai. Kau sudah siap yui ? “ tanya managerku

“ Umm.. tentu.. “

Ku tutup hpku kemudian menatap pemandangan diluar busway ini. Sudah 3 tahun aku di sini berjuang untuk mewujudkan mimipiku. Dan audisi 3 bulan lalu membuahkan hasil dari jerih payahku, mimpiku tidak sia-sia. Rasanya ingin merasakan euphoria atas keberhasilan ini.

Dan ketika peluncuran album pertamaku, aku semakin bersyukur bahwa usahaku tak pernah sia-sia. Ketika sedikit demi sedikit orang mengenalku, menyukai laguku, aku semakin bangga. Tapi ada satu hal yang aku rasa kurang di dalam hidupku, yaitu kehadiran ibu. 3 tahun tak merasakan pelukan ibu, tak mendengar omelan ibu, tak menatap wajah ibu, ku rasa aku merindukannya.

“ Yui, ada orang yang ingin bertemu denganmu.. “ kata manager

Ternyata itu toma,

“ Babi kecil. Bagaimana mimpimu, sudah menjadi nyatakah ? “ tanya toma, pertanyaan yang sama yang pernah ia ajukan padaku

“ Iya, aku sudah menemukannya. Inilah mimpiku.. “

“ Jadi, apa kau bahagia ? “

“ Mmm.. sejujurnya aku rindu pada ibu.. “ jawabku

“ Kalau begitu kembalilah ke fukuoka dan temui ibumu, dia juga merindukanmu.. “

“ Benarkah ? “ tanyaku senang

Toma mengangguk.

“ Tapi aku harus menyelesaikan satu single lagi, biarkan aku menyelesaikannya lalu aku akan kembali ke fukuoka “

“ Mmm.. lalu apa kau juga akan meneruskan bisnis restoran keluargamu ? “

“ Eh itu.. aku belum memikirkannya.. “

“ Tenanglah.. sepertinya kau harus memiliki seorang pendamping hidup yang dapat mewujudkan keinginan ibumu.. “

“ Begitu ya ? tapi aku belum memikirkan hal itu.. “ kataku

“ Hahaha.. sudah jangan dipikirkan kata-kataku. Selesaikan single lagu barumu, aku yang akan menjemputmu untuk pulang ke fukuoka.. “

Aku tersenyum, toma benar-benar sahabat yang baik.

Single baruku kali ini berjudul ‘ To mother ‘. Ku harap ibu mendengarnya, ini kisah aku dan ibu. Dan aku ingin segera memeluk dan mengatakan pada beliau. Aku sayang ibu, dan minta maaf atas segala kesalahan yang aku perbuat pada ibu.

++++++++++

Senyum lembut itu menghapus keegoisanku, tangannya yang sedikit keriput meraba lembut pipiku. Aku hanya dapat menangis dan meminta maaf.

“ Ibu yang harusnya minta maaf nak. Ibu bangga padamu “ kata ibu dengan mata berkaca-kaca

“ Terima kasih ibu, yui sayang ibu “ kataku lalu memeluk ibu

Rasanya sudah berabad-abad aku tak memeluknya, betapa dosanya aku. Kini ada ibu di sampingku, aku rasa kebahagiaanku sudah lengkap. ^^

-THE END-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s